close
close
0
Dikirim pada 01 Juli 2009 di TASAWUF

Dalam kehidupan kita selalu saja ada sisi positif dan negatif dalam interaksi kita dengan sesama. Positif ketika interaksi kita tidak membawa kekecewaan, bahkan yang ada adalah saling tolong menolong sesama mukmin, saling sayang menyayangi sesama mukmin.  Dan negatif akan timbul, saat interaksi kita dengan orang lain membuahkan kekecewaan yang tidak jarang bisa berakibat memutuskan silaturahim dan menimbulkan kebencian.

Pernik-pernik kehidupan nyata kadang tidak selalu seindah yang kita inginkan. Dalam interaksi kita dengan orang lain, bisa saja terjadi khilaf dan salah paham, yang membuat jalinan persaudaraan atau pertemanan menjadi  tidak harmonis. Berawal dari khilaf dan salah paham inilah yang sering mengakiibatkan dua orang yang pada awalnya saling menyayangi dan memperhatikan satu sama lain, menjadi renggang, menjadi jauh. Dan muncullah kekakuan-kekakuan dalam hubungan. Interaksi persaudaraan, persahabatan, pertemanan menjadi hambar. Sapaan cuma basa-basi. Tidak ada lagi kerinduan, sebaliknya yang ada adalah kekecewaan dan kebencian.
 
Bahkan yang lebih repot lagi saat keridakharmonisan hubungan itu menular ke orang lain. Keretakan persaudaraan dan pertemanan atau persahabatan bukan lagi hubungan antar dua pihak semata, bahkan merembet. Bisa jadi seluruh keluarga dan atau seluruh teman dekat kita pun akan ikut menjauhi dan ikut memutus hubungan silaturahim, dikarenakan masalah pribadi kita dengan seseorang.  Hal seperti ini pernah dikatakan Rasulullah SAW. “Cinta bisa berkelanjutan (diwariskan) dan benci pun demikian.” (HR. Al-Bukhari)
 
Salah satu sebab yang menjadikan begitu sulitnya kita menjalin kembali hubungan yang telah renggang adalah karena tertutupnya peluang berkomunikasi. Biasanya masing-masing saling bertahan dan saling menunggu untuk tidak memulai komonikasi duluan. Bagi beberapa orang kadang memang tidak mudah menggerakkan hati untuk memulai komunikasi atau berkunjung ke orang yang pernah dibenci.
 
Mungkin masih terngiang seperti apa sakitnya hati dan begitu berat beban batin.. Terlebih ketika setan terus mengipas-ngipas bara luka lama. Saat itulah, setan mempengaruhi seseorang bahwa dia adalah pihak yang patut dihubungi dan atau dikunjungi terlebih dahulu.   
Bukankah Rasulullah SAW telah menegaskan dalam sabdanya : Sambunglah orang yang memutus silaturahim denganmu. Berilah hadiah kepada orang yang enggan memberimu. Dan jangan hiraukan orang yang menzalimi kamu.” (HR. Ahmad)
 
Perhatikan dan renungkan dengan seksama sabda Rasulullah SAW berikut ini  “tidak halal bagi seorang muslim menjauhi (memutuskan hubungan) dengan saudaranya melebihi tiga malam. hendaklah mereka bertemu untuk berdialog, mengemukakan isi hati. dan yang terbaik adalah yang pertama memberi salam (menyapa).” (HR. Bukhari)
 
Perhatikan beberapa firman Allah SWT yang terkait silaturahim :
 
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.(QS. An Nissa [4] : 1)
 
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat,anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nissa’ [4]: 36)
 
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat,anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” (Al-Baqarah [2] : 83)
 
Allah SWT telah berfirman dalam surah Al Maaidah ayat 8 sebagai berikut:
Maha Benar Allah dalam firmanNya, ”Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al Maaidah [5] : 8 )
 
Firman Allah swt. “Hai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap adzillah (lemah lembut) terhadap orang mukmin, yang bersikap ‘izzah (keras) terhadap orang-orang kafir… Al Maaidah  [5:] : 54).” (QS
 
Manfaat lain dari menjalin silaturahim adalah seperti yang dikatakan Rasulullah SAW. “Siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah menyambung tali silaturahim.” (Muttafaq ‘alaih)
Nabi SAW bersabda:   "Hubungilah orang yang telah memutuskan engkau, dan berilah kebaikan kepada yang telah berbuat jahat kepada engkau, dan katakanlah (berbicaralah) dengan hak (yang sebenarnya) walaupun terhadap dirimu sendiri” (ibn Najar)
 
Dalam usaha kita menjalin kembali silaturahim yang telah putus, maka sebaiknya kita mengingat dan membayangkan kebaikan-kebaikan saudara dan atau teman kita. Jangan mengingat kesalahan yang ada atau mencari siapa yang paling salah dan benar, karena hal itu kerap akan menimbulkan kebencian dan bisa menghilangkan kebaikan orang lain.
 
Bukankah kitapun sebagai manusia biasa pastinya tidak luput dari khilaf dan berbuat salah? Jadi bila dalam ketidakharmonisan hubungan kita dengan seorang teman atau saudara, dan kebetulan kita berada di pihak yang disakiti, maka alangkah sangat terpujinya apabila kita bisa berlapang dada memaafkan kekhilafan teman kita itu. Jangan sampai kebaikan teman kita selama ini, terhapus dengan satu kesalahan yang dibuatnya.
Dan apabila dalam ketidakharmonisan hubungan kita dengan teman atau saudara, kemudian ternyata kita menyadari bahwa sebenarnya kita berada di pihak yang salah, pihak yang telah menyakiti, melukai. Maka berjiwa besarlah mengakui kesalahan kita, jangan malu untuk minta maaf, karena tidak akan pernah berkurang kemuliaan seseorang dan tidak akan pernah jadi buruk nama baik seseorang, apabila ia mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Yang ada justru kemuliaan bagi siapapun yang berjiwa besar mengakui kesalahan dan menjalin kembali silaturahim yang sempat putus, yang diakibatkan kesalahan yang dilakukannya.
 
Memang agak sulit untuk menjalain silaturahim dengan orang yang membenci kita atau seseorang yang sangat menghindari pertemuan dengan kita atau yang tidak mau kita hubungi lagi. Tetapi apabila kita mengupayakan diri sekuat tenaga untuk tetap menghubunginya, untuk tetap menjalin silaturahim dengannya dan mengupayakan untuk bertemu dengannya.  Maka inilah yang disebut silaturrahim yang sebenarnya. Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda, Yang disebut bersilaturrahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturrahim itu ialah menyambungkan apa yang telah putus. (HR Bukhari).
 
Mari kita tanyakan pada diri kita sendiri, sudahkah kita berusaha menjalin silaturahim dengan orang yang memutuskannya dengan kita? Atau kita hanya berdiam diri membiarkan silaturahim tersebut putus, karena merasa bukan kita ini, yang memutuskan silaturahim?
 
Agama Islam mengajak kita untuk menjauhi segala macam bentuk pemutusan hubungan silaturahim, menjauhi dendam dan kebencian. Karena itu,  jika ada seseorang yang menjauhi kita dan memutus tali silaturrahmi dengan kita, maka kita diharapkan proaktif untuk memperbaiki dan membangun hubungan dengan orang yang memutuskannya, agar hubungan tersebut baik kembali. Hal ini memang tidak mudah dilakukan, terlebih lagi kalau kita berada dipihak yang benar atau pihak yang disakiti. Tetapi percayalah, apabila kita melakukannya tulus ikhlas karena Allah, maka tidak akan sulit.
 
Dewi Yana
 
 


Dikirim pada 01 Juli 2009 di TASAWUF
comments powered by Disqus
Profile

Saya Penulis Buku Agama More About me

Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 322.685 kali


connect with ABATASA