0
09 Jun
Dikirim pada 09 Juni 2009 di TASAWUF

Ridha bermakna menerima semua realita takdir dan ketentuan Allah dengan senang hati, ikhlas, lapang dada, bahagia, tanpa merasa kecewa atau marah. Walaupun ketentuan Allah tersebut tidak sesuai dengan keinginan kita dan kadang membawa kita pada kesedihan. Saya mengatakan demikian, karena kadang realita kehidupan memang ada yang membawa kita pada kekecewaan dan kesedihan. Tapi kalau kita bisa ridha menerima semuanya dan mengembalikan semua kejadian pada Penguasa Segala Kejadian (Allah), maka kita akan terbebas dari rasa kekecewaan dan kesedihan hingga kita pun bisa berlapang dada menerima kenyataan hidup, ridha menerima ketentuan-Nya. Karena sesungguhnya, tidak ada ketentuan-Nya yang buruk, semua pasti ada hikmahnya, hanya saja memang kadang butuh waktu bagi kita untuk memahami, hikmah apa yang terkandung dalam setiap ketentuan-Nya.

Dalam hadits atha’, Ibnu Abbas berkata: Ketika Rasulullah SAW menemui sahabat – sahabat Anshor, Beliau bersabda: ”apakah kamu orang – orang mukmin?” , lalu mereka diam,maka berkatalah Umar : “ Ya, Rasulullah”. Beliau SAW bersabda lagi: “ apakah tanda keimananmu?”, mereka berkata: “ kami bersyukur menghadapi kelapangan, bersabar menghadapi bencana, dan ridha dengan qada’ ketentuan Allah”, kemudian Nabi SAW bersabda lagi:”Orang- orang mukmin yang benar, demi Tuhan Ka’ba”.
 
Dalam hadits diatas diterangkan dengan jelas bahwaridha merupakan tanda dari keimanan seseorang, ridha adalah suatu maqam mulia karena didalamnya terhimpun tawakal dan sabar.
 
Namun kadang ada orang yang salah persepsi dalam memahami ridha dengan suatu pengertian pasrah tanpa usaha. Padahal menyerah pasrah dalam suatu keadaan, yang berupa pasrah secara total tanpa usaha sama sekali, tanpa ikhtiar sedkitpun untuk mencari jalan keluar, adalah pemahaman yang salah dari ridha. Karena ridha bukan berarti menerima begitu saja segala hal yang menimpa kita tanpa ada usaha sedikit pun untuk mengubahnya.
 
Ridha tidak sama dengan pasrah. Ketika sesuatu yang tidak diinginkan datang menimpa kita, kita memang dituntut untuk ridha menerimanya. Dalam pengertian kita meyakini bahwa apa yang telah menimpa kita itu adalah takdir yang telah Allah tetapkan untuk kita, namun kita tetap dituntut untuk berusaha. Allah berfirman, ’’…..Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…..’’(QS Ar Ra’d  ayat 11).
 
Jadi, ridha menuntut adanya usaha aktif, dan itu sangat berbeda dengan sikap pasrah yang menerima kenyataan begitu saja tanpa ada usaha untuk mengubahnya. Walaupun di dalam ridha terdapat makna yang hampir sama dengan pasrah yaitu menerima dengan lapang dada suatu perkara, namun di dalam ridha dituntut adanya usaha untuk mengubah kondisi yang ada, misalnya saat kita sakit, kita wajib berusaha dan berikhtiar untuk sembuh dengan cara berobat.
 
Berikut beberapa keutamaan ridha dalam Al Quran.
 
Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka dan berkata “cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang uyang berharap kepada Allah” (tentunya yang demikian itu lebih baik bagi mereka) (QS. At Taubah ayat 59)
 
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ’Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (QS.Al bayyinah ayat 8)  
 
Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepda Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya selama-lamanya. Mereka kekal didalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah ayat 100)
 
 “….Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS. Al Mujaadilah ayat 22)
 
Ridha Allah kepada hamba-Nya adalah berupa tambahan kenikmatan, pahala, dan ditinggikan derajat kemuliaannya. Sedangkan ridha seorang hamba kepada Allah mempunyai arti menerima dengan sepenuh hati aturan dan ketetapan Allah. Menerima aturan Allah ialah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun menerima ketetapannya adalah dengan cara bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika ditimpa musibah.
 
Mudah-mudahan setelah kita mengetahui perbedan pengertian antara ridha dan pasrah, kita tidak akan lagi salah persepsi dalam memahaminya dan setelah kita mengetahui keutamaan ridha yang tertulis dalam Al Quran, semoga kita bisa menjadi hamba-Nya yang ridha dalam menerima segala ketantuan takdirnya, amiin.
 
Dewi Yana

http://jalandakwahbersama.wordpress.com



Dikirim pada 09 Juni 2009 di TASAWUF
comments powered by Disqus
Profile

Saya Penulis Buku Agama More About me

Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 496.822 kali


connect with ABATASA