close
close
0
Dikirim pada 18 Mei 2009 di TASAWUF

Dalam hidup ini kita harus menetapkan batasan terendah sebagai seorang mukmin, yaitu meyakini Allah sedang melihat kita”  karena bila kita masih berada dibawah batasan ini, berarti kita termasuk golongan yang lalai.  Kita semua mengetahui bahwa Allah SWT : Al-Bashir (Maha Melihat)   dan Al-Syahid (Maha menyaksikan).

Meyakini Allah sedang melihat kita, disebut juga dengan kesadaran muraqabah, Pengertian muraqabah adalah :  menerapkan kesadaran bahwa Allah selalu melihat dan  mengawasi  kita dalam segala keadaan. Bahwa Allah selalu mengetahui apa yang kita rasakan, ucapkan dan kita perbuat.

Bila kita tidak bisa menerapkan keyakinan bahwa Allah sedang melihat kita, (muraqabah), maka kita akan menjadi hamba yang lupa akan pengawasan Allah, karena kita mengira bahwa Allah tidak mengetahui apa yang kita kerjakan. Sehingga ada dari kita yang sering berdusta/berbohong, hingga berbohong  menjadi suatu hal yang sudah biasa dilakukan dan yang terparah bahkan tidak ada rasa canggung dan tidak merasa berdosa bila telah melakukan suatu kebohongan baik untuk hal kecil maupun besar, Dan pada umumnya, orang yang telah berbohong/berdusta, akan cenderung melakukannya lagi, lagi, dan lagi.

Mereka yang berbohong/berdusta/mengatakan sesuatu yang tidak benar, biasanya malu untuk mengakuinya, karena gengsi, memikirkan takut apa penilaian orang padanya bila mengetahui kebohongannya dan takut nama baiknya tercemar. Walaupun sebenarnya dia sadar bahwa kebohongan/ dusta yang dikatakannya itu, kadang telah membawa kesulitan bagi orang lain serta merugikan orang lain. Terutama apabila kebohongannya itu  lebih menjurus kepada sebuah fitnah, misalnya dengan mengatakan kebohongan, menuduh seseorang melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya.  Ini tingkat kebohongan yang sudah parah, karena kebohongan yang seperti ini sama saja dengan fitnah, dan fitnah itu bisa jadi senjata yang sangat menghancurkan.

Mungkin bagi yang melakukan kebohongan/dusta, baik yang kecil atau besar, lupa bahwa ada Allah yang Maha Menyaksikan segalanya, seperti tertulis dalam firman-Nya: “kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari penyaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Fushshilat : 22)

Allah menciptakan telinga, mata dan kulit yang selalu menyertai kita untuk mengawasi semua gerak-gerik kita dimana pun kita berada.  Sadarilah, bahwa anggota tubuh kita itu akan melaporkan semua aktivitas kita kepada Allah pada hari penyaksian nanti.  Sebagaimana tertulis dalam firman-Nya : “sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa telah mereka kerjakan” (Q.S. Fushshilat : 20).

Mengutip buku  Ketika Allah Berbahagia, dr Abu Syadi khalid :   Diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik ra, sebagai berikut : suatu hari kami duduk bersama-sama Rasulullah saw, kami lihat Beliau tertawa, kemudian Beliau bertanya kepada kami, tahukah kalian apa yang menyebabkanku tertawa ?  Kami menjawab, Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.  Rasul berkata, saya tertawa karena dialog seorang hamba dengan Tuhannya (di hari pembalasan).

Hamba itu berkata : wahai Tuhan, tidakkah Engkau akan menyelamatkanku dari kezaliman ?  Tuhan menjawab, Ya. Kemudian hamba itu berkata, saya tidak akan menerima tuduhan atasku kecuali dengan bedasarkan saksi.  Tuhan menjawab : Cukup dirimu sendiri dan malaikat pencatat amal yang akan menjadi saksi.  Setelah itu mulut hamba tersebut ditutup dan Tuhan mulai menanyai anggota tubuh hamba tersebut.  “Berkatalah”, maka anggota-anggota tubuh itu mengisahkan semua amal perbuatan hamba tersebut.  Kemudian mulut hamba tersebut diperkenankan untuk berbicara kembali, maka (sambil marah) mulut itu berkata kepada anggota-anggota badan yang lain, kalian adalah penghianat dan akan binasa, dulu didunia aku telah membela kalian.

Jadi, bila ada dari kita yang kadang masih suka berbohong/berdusta, baik dalam hal kecil maupun besar, sebaiknya segeralah bertaubat, dan mulai menerapkan batasan terendah sebagai seorang muslim, agar kita tidak menjadi hamba Allah yang lalai. Dan cobalah untuk mengucapkan tiga kata-kata berikut ini, disertai dengan pemahaman yang mendalam : Allahu Ma’ii (Allah bersamaku) Allahu Nazhirii (Allah melihatku) Allahu Syaahidii (Allah Menyaksikanku).

Cobalah baca wirid itu berulang-ulang, Insya Allah kita bisa merasakan kehadiran dan pengawasan Allah, serta benar-benar merasakan Allah melihat segala apa yang kita kerjakan, seperti yang tertuilis dalam firman-Nya di surah Al Hadid ayat 4 :

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari; Kemudian Dia bersemayam di atas ’Arsy . Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS. Al Hadid 4)

 

Dewi Yana

http://groupsyahoo.com/group/jalandakwah

jalandakwahbersama.wordpress.com

 

 



Dikirim pada 18 Mei 2009 di TASAWUF
comments powered by Disqus
Profile

Saya Penulis Buku Agama More About me

Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 323.576 kali


connect with ABATASA