0

Mungkin ada dari kita yang bertanya-tanya, bagaimana membedakan antara ujian dan azab?

Musibah atau bencana yang menimpa orang yang beriman yang tidak lalai dari keimanannya, sifatnya adalah ujian dan cobaan. Allah ingin melihat bukti keimanan dan kesabaran kita. Jika kita bisa menyikapi dengan benar, dan mengembalikan semuanya kepada Allah, maka Allah akan memberikan pertolongan dan rahmat sesudah musibah atau bencana tersebut.

Sebaliknya bagi orang-orang yang bergelimang dosa dan kemaksiatan, bencana atau musibah yang menimpa, itu adalah siksa atau azab dari Allah atas dosa-dosa mereka. Apabila ada orang yang hidupnya bergelimang kejahatan dan kemaksiatan, tetapi lolos dari bencana/musibah, maka Allah sedang menyiapkan bencana yang lebih dahsyat untuknya, atau bisa jadi ini merupakan siksa atau azab yang ditangguhkan, yang kelak di akhirat-lah balasan atas segala dosa dan kejahatan serta maksiat yang dilakukannya.

Sebenarnya yang terpenting bukan musibahnya, tetapi apa alasan Allah menimpakan musibah itu kepada kita. Untuk di ingat, jika musibah itu terjadi, disebabkan dosa-dosa kita, maka segera-lah bertobat kepada Allah. Kalau musibah yang terjadi karena ujian keimanan kita, maka kuatkan iman dan berpegang teguhlah kepada Allah.

Siapa saja berbuat kebaikan, maka manfaatnya akan kembali kepadanya. Sedangkan siapa saja berbuat kejahatan, maka bencananya juga akan kembali kepada dirinya sendiri. Bisa dibalas didunia atau di akhirat.

Perhatikan firman allah SWT berikut ini : ”Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab”. (QS. Al Mukmin [40] : 40).

Perhatikan juga dengan seksama firman Allah SWT berikut ini : “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An Nissa [4] : 79)
Ibnu Katsir mengatakan bahwa makna “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah” adalah dari karunia dan kasih sayang Allah SWT. Sedangkan makna “dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Berarti dari dirimu sendiri dan dari perbuatanmu sendiri.

Berikut beberapa contoh :
Musibah bisa jadi sebagai peringatan
Musibah ini diberikan kepada kaum mukmin yang merosot keimanannya. Peringatan ini karena kasih sayang Allah SWT. Misalnya seseorang yang berada dalam kesempitan rezki. Kemudian ia bermunajat di malam hari agar Allah memberikannya keluasan rezeki. Shalat tahajjud, shalat Dhuha, puasa sunah senin kamis dan perbaikan ibadah lainnya dengan semaksimal mungkin. Hingga Allah SWT memberikan jalan keluar. Bisnisnya berkembang, karyawan bertambah, kesibukan semakin meningkat. Tapi justru dikarenaka sibuknya satu persatu ibadah sunahnya mulai ia tinggalkan. Shalat-shalatnya pun semakin tidak khusyu’. Seharusnya bertambahnya nikmat, membuat ia bertambah syukur dan semakin dekat dengan Allah, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, nikmat bertambah malah membuatnya semakin jauh dari Allah.

Orang ini sebenarnya sedang mengundang datangnya musibah,atau azab Allah. Musibah yang datang kepadanya sebagai peringatan untuk meningkatkan kembali keimanannya yang merosot itu. Bisa saja terjadi tiba-tiba usahanya macet dan banyak mengalami kerugian. Akibatnya ia terlilit hutang. Dalam keadaan bangkrut tadi tidak ada yang mau menolongnya. Ketika itulah ia kembali kepada Allah untuk memohon pertolongan dengan cara memperbaiki ibadah-ibadahnya yang selama ini sudah tidak ia perhatikan lagi. Tercapailah tujuan musibah yaitu pemberi peringatan.
Musibah juga bisa sebagai penggugur dosa-dosa kita. Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini: “Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Perhatikan dengan seksama firman Allah SWT berikut ini : “Dan Sesungguhnya kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As Sajdah : 21)

Jadi sebenarnya, Allah SWT menurunkan musibah atau azab pada kita di dunia ini, sebagai peringatan bagi kita, untuk kembali pada kebenaran.

2 Musibah sebagai ujian keimanan

Musibah ini adalah tanda kecintaan Allah SWT pada seseorang hamba. Semakin tinggi derajat keimanan dan kekuatan agama seseorang justru ujian (musibah) yang menimpanya akan semakin berat. Perhatikan sabda Nabi SAW berikut ini : Dari Mush’ab bin Sa’d dari ayahnya. Ayahnya berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah SAW," Manusia manakah yang paling berat ujiannya?" Rasulullah SAW menjawab," Para Nabi, kemudian disusul yang derajatnya seperti mereka, lalu yang di bawahnya lagi. Seseorang diuji sesuai keadaan agamanya. Jika agamanya itu kokoh maka diperberatlah ujiannya. Jika agamanya itu lemah maka ujiannya pun disesuaikan dengan agamanya. Senantiasa ujian menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi tanpa dosa sedikit pun." (HR. al-Ahmad, al-Tirmidzi dan Ibn Majah,berkata al-Tirmidzi: hadits hasan shahih)

Sedangkan bala atau cobaan maupun ujian juga telah disebutkan didalam Al Qur’an seperti tertulis dalam firman Allah SWT : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al Anbiya [21] : 35)

Cobaan atau ujian yang menimpa setiap orang dan ini bisa berupa keburukan atau kebaikan, kesenangan atau kesengsaraan, sebagaimana disebutkan pula didalam firman-Nya yang lain yaitu : “ Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran) (QS. Al A’raf [7] : 168).

Sekarang coba tanyakan dengan jujur pada diri sendiri, bagaimana keimanan kita terhadap Allah SWT ? Apabila kita termasuk orang yang lalai, maka jawaban atas musibah yang menimpa, adalah sebagai azab dan peringatan atas kelalaian kita, agar kita sadar dari kelalain kita selama ini. Dan segeralah bertobat.

Dan kalau kita bukan hamba-Nya yang lalai, maka segala ujian yang terjadi menimpa kita, adalah sebagai suatu ujian, dimana dengan ujian itu, Allah telah menyiapkan tingkat keimanan yang lebih tinggi untuk kita. Seperti menjadikan kita hamba pilihan-Nya yang sabar. Dan pahala orang yang sabar sungguh tanpa batas. Seperti tertulis dalam firman-Nya : “…..Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (Az Zumar [39] : 10) Dengan kesabaran, akan bisa meraih ridha Allah, dan ridha Allah adalah segalanya.

Dewi Yana
http://jalandakwahbersama.wordpress.com
http://dewiyana.cybermq.com

Dikirim pada 02 Juli 2009 di TASAWUF

Dalam kehidupan kita selalu saja ada sisi positif dan negatif dalam interaksi kita dengan sesama. Positif ketika interaksi kita tidak membawa kekecewaan, bahkan yang ada adalah saling tolong menolong sesama mukmin, saling sayang menyayangi sesama mukmin. Dan negatif akan timbul, saat interaksi kita dengan orang lain membuahkan kekecewaan yang tidak jarang bisa berakibat memutuskan silaturahim dan menimbulkan kebencian.

Pernik-pernik kehidupan nyata kadang tidak selalu seindah yang kita inginkan. Dalam interaksi kita dengan orang lain, bisa saja terjadi khilaf dan salah paham, yang membuat jalinan persaudaraan atau pertemanan menjadi tidak harmonis. Berawal dari khilaf dan salah paham inilah yang sering mengakiibatkan dua orang yang pada awalnya saling menyayangi dan memperhatikan satu sama lain, menjadi renggang, menjadi jauh. Dan muncullah kekakuan-kekakuan dalam hubungan. Interaksi persaudaraan, persahabatan, pertemanan menjadi hambar. Sapaan cuma basa-basi. Tidak ada lagi kerinduan, sebaliknya yang ada adalah kekecewaan dan kebencian.

Bahkan yang lebih repot lagi saat keridakharmonisan hubungan itu menular ke orang lain. Keretakan persaudaraan dan pertemanan atau persahabatan bukan lagi hubungan antar dua pihak semata, bahkan merembet. Bisa jadi seluruh keluarga dan atau seluruh teman dekat kita pun akan ikut menjauhi dan ikut memutus hubungan silaturahim, dikarenakan masalah pribadi kita dengan seseorang. Hal seperti ini pernah dikatakan Rasulullah SAW. “Cinta bisa berkelanjutan (diwariskan) dan benci pun demikian.” (HR. Al-Bukhari)

Salah satu sebab yang menjadikan begitu sulitnya kita menjalin kembali hubungan yang telah renggang adalah karena tertutupnya peluang berkomunikasi. Biasanya masing-masing saling bertahan dan saling menunggu untuk tidak memulai komonikasi duluan. Bagi beberapa orang kadang memang tidak mudah menggerakkan hati untuk memulai komunikasi atau berkunjung ke orang yang pernah dibenci.

Mungkin masih terngiang seperti apa sakitnya hati dan begitu berat beban batin.. Terlebih ketika setan terus mengipas-ngipas bara luka lama. Saat itulah, setan mempengaruhi seseorang bahwa dia adalah pihak yang patut dihubungi dan atau dikunjungi terlebih dahulu.
Bukankah Rasulullah SAW telah menegaskan dalam sabdanya : Sambunglah orang yang memutus silaturahim denganmu. Berilah hadiah kepada orang yang enggan memberimu. Dan jangan hiraukan orang yang menzalimi kamu.” (HR. Ahmad)

Perhatikan dan renungkan dengan seksama sabda Rasulullah SAW berikut ini “tidak halal bagi seorang muslim menjauhi (memutuskan hubungan) dengan saudaranya melebihi tiga malam. hendaklah mereka bertemu untuk berdialog, mengemukakan isi hati. dan yang terbaik adalah yang pertama memberi salam (menyapa).” (HR. Bukhari)

Perhatikan beberapa firman Allah SWT yang terkait silaturahim :

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.(QS. An Nissa [4] : 1)

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat,anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nissa’ [4]: 36)

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat,anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” (Al-Baqarah [2] : 83)

Allah SWT telah berfirman dalam surah Al Maaidah ayat 8 sebagai berikut:
Maha Benar Allah dalam firmanNya, ”Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al Maa’idah [5] : 8 )

Firman Allah swt. “Hai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap adzillah (lemah lembut) terhadap orang mukmin, yang bersikap ‘izzah (keras) terhadap orang-orang kafir… Al Maa’idah [5:] : 54).” (QS

Manfaat lain dari menjalin silaturahim adalah seperti yang dikatakan Rasulullah SAW. “Siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah menyambung tali silaturahim.” (Muttafaq ‘alaih)
Nabi SAW bersabda: "Hubungilah orang yang telah memutuskan engkau, dan berilah kebaikan kepada yang telah berbuat jahat kepada engkau, dan katakanlah (berbicaralah) dengan hak (yang sebenarnya) walaupun terhadap dirimu sendiri” (ibn Najar)

Dalam usaha kita menjalin kembali silaturahim yang telah putus, maka sebaiknya kita mengingat dan membayangkan kebaikan-kebaikan saudara dan atau teman kita. Jangan mengingat kesalahan yang ada atau mencari siapa yang paling salah dan benar, karena hal itu kerap akan menimbulkan kebencian dan bisa menghilangkan kebaikan orang lain.

Bukankah kitapun sebagai manusia biasa pastinya tidak luput dari khilaf dan berbuat salah? Jadi bila dalam ketidakharmonisan hubungan kita dengan seorang teman atau saudara, dan kebetulan kita berada di pihak yang disakiti, maka alangkah sangat terpujinya apabila kita bisa berlapang dada memaafkan kekhilafan teman kita itu. Jangan sampai kebaikan teman kita selama ini, terhapus dengan satu kesalahan yang dibuatnya.
Dan apabila dalam ketidakharmonisan hubungan kita dengan teman atau saudara, kemudian ternyata kita menyadari bahwa sebenarnya kita berada di pihak yang salah, pihak yang telah menyakiti, melukai. Maka berjiwa besarlah mengakui kesalahan kita, jangan malu untuk minta maaf, karena tidak akan pernah berkurang kemuliaan seseorang dan tidak akan pernah jadi buruk nama baik seseorang, apabila ia mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Yang ada justru kemuliaan bagi siapapun yang berjiwa besar mengakui kesalahan dan menjalin kembali silaturahim yang sempat putus, yang diakibatkan kesalahan yang dilakukannya.

Memang agak sulit untuk menjalain silaturahim dengan orang yang membenci kita atau seseorang yang sangat menghindari pertemuan dengan kita atau yang tidak mau kita hubungi lagi. Tetapi apabila kita mengupayakan diri sekuat tenaga untuk tetap menghubunginya, untuk tetap menjalin silaturahim dengannya dan mengupayakan untuk bertemu dengannya. Maka inilah yang disebut silaturrahim yang sebenarnya. Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda, ’Yang disebut bersilaturrahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturrahim itu ialah menyambungkan apa yang telah putus. ’ (HR Bukhari).

Mari kita tanyakan pada diri kita sendiri, sudahkah kita berusaha menjalin silaturahim dengan orang yang memutuskannya dengan kita? Atau kita hanya berdiam diri membiarkan silaturahim tersebut putus, karena merasa bukan kita ini, yang memutuskan silaturahim?

Agama Islam mengajak kita untuk menjauhi segala macam bentuk pemutusan hubungan silaturahim, menjauhi dendam dan kebencian. Karena itu, jika ada seseorang yang menjauhi kita dan memutus tali silaturrahmi dengan kita, maka kita diharapkan proaktif untuk memperbaiki dan membangun hubungan dengan orang yang memutuskannya, agar hubungan tersebut baik kembali. Hal ini memang tidak mudah dilakukan, terlebih lagi kalau kita berada dipihak yang benar atau pihak yang disakiti. Tetapi percayalah, apabila kita melakukannya tulus ikhlas karena Allah, maka tidak akan sulit.

Dewi Yana
http://jalandakwahbersama.wordpress.com
http://dewiyana.cybermq.com

Dikirim pada 01 Juli 2009 di TASAWUF
Awal « 1 » Akhir
Profile

Saya Penulis Buku Agama More About me

Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 499.939 kali


connect with ABATASA